INTERMESO
“Jangan salahkanku karena jadwal pribadimu yang berantakan, salahmu
sendiri tak menghitung waktumu dengan benar” ku menggerutu tanpa menatapnya,
sibuk mencari hape di tas.
“Yah kukira tak sampai secepat ini kau menjemputku.” jawabnya tanpa beban
“Kita nonton jam 15.30, jadi pasti kujemput jam 15.00, masa iya itu terlalu
awal untukmu?” ku menatapnya dengan senyum mengejeknya.
Perdebatan yang tak penting di awal jumpa, bukankah itu sangat
menjengkelkan jika dilihat orang, tapi kita selalu tak acuh dengan apa kata
orang. Tanpa menghentikan debat yang tak berarti itu, ku pindah posisi dari
motorku, berpindah peran menjadi penumpang.
Dan motor melaju mengejar waktu, kulihat sudah kurang 14 menit lagi
filmnya akan diputar, dan kita masih setengah jalan terjebak macet. Debat
panjang tadi pun berubah menjadi omelanku, terpicu dengan caranya mengendarai
motor yang terjebak kemacetan.
“Terus harus gimana? Penting ngejar waktu film, atau penting amannya naik
motor?”
“Dua-duanya penting! naek motornya yang aman, tapi cepet dikit kan
bisa, keburu filmnya diputar!” seenaknya sendiri kujawab seperti itu.
Sebenarnya ku tak apa jika melewatkan awal fim diputar, tapi aku merasa sayang sekali jika ku melewatkan kesenanganku, mengomelinya.
Dan tepat sebelum film diputar kita sudah sampai di dalam bioskop. Lampunya
masih menyala dengan terang, menunggu penikmat film mencari tempatnya.
“Ku suka suasana seperti ini dan selalu menantinya,"
"Duduk, menunggu, dan kemudian lampu perlahan mati, romansa gelap dengan sedikit suara, tanda film akan segera diputar”berbisik ku katakan padanya.
"Duduk, menunggu, dan kemudian lampu perlahan mati, romansa gelap dengan sedikit suara, tanda film akan segera diputar”berbisik ku katakan padanya.
Diam sejenak, mencoba merasakan apa maksudku.
“Biasa aja, ga ada feelingnya” ekspresinya datar terlihat dari suaranya.
Ingin ku mendebatnya lagi tak mau mengalah, tapi kali ini ku diam saja,
tak membalasnya, teralihkan dengan iklan film yang sudah diputar.
“Ah, aku ingin mewarnai rambutku juga…” kataku seperti bocah, terpengaruh dengan film yang ditonton.
“Buat apa? Percuma saja, toh pengenmu itu pasti cuman angin-anginan”
ketus jawabnya.
“ terima kasih tanggapannya” jawabku
Kita tak langsung kembali ke tempat parkir, kita berbelok arah menuju kesenangan kita berdua. Berjalan menyusuri trotoar, kadang beriringan, kadang saling meninggalkan,
hanya menunggu saat menyeberang jalan saja, dan diam tanpa suara.
“Ada buku yang mau dicari?” tanyanya.
“Ga ada, hanya melihat-lihat dulu, mencari referensi bacaan selanjutnya.
Aku masih punya tanggungan 1 buku yang belum selesai” jawabku.
Kita berpisah menuju genre pilihan masing-masing. Genre kita
berbeda, sangat berbeda dan itu kentara sekali.
Kuhabiskan waktuku sangat lama di genreku, melihat, sedikit membaca untuk terpikat. Memilih buku yang akan kubeli
untuk jatah bulan depan. Dan aku mempunyai aturan, semacam aturan tak tertulis
untuk diri sendiri, buku yang kupunya harus kubaca dulu sampai tamat, kemudian
baru boleh tambah lagi.
“Sudah dapat bukunya?” tanyanya
“Sudah, tapi tak kutebus sekarang, kutamatkan dulu tanggunganku”kataku.
“Bagaimana denganmu, ada yang menarik?”
“Belum, belum dapat feeling" sambil menatap rak buku berpikir.
"Apa kamu pernah membaca buku genre ini?”
pertanyaannya sangat mengusikku.
“Pernah, sekali, tapi tak kutamatkan sampai sekarang” jawabku santai
“Kenapa? Kamu melanggar sendiri aturan yang kau buat itu, atau dirimu terlalu pusing
untuk membacanya atau daya pikirmu tak berani untuk berimaji?” pertanyaannya
memborbardirku, dengan matanya yang menyipit.
Sedikit emosi ketika daya pikirku serasa dilecehkannya, dia seperti menilaiku tanpa mengerti maksudku “Bukan, bukan
begitu, hanya saja sepertinya ku terlalu cepat memilih membaca buku itu, dan
seharusnya ku mulai dari yang ringan dulu, tapi masalahnya ku tak tau harus
dimulai dari mana.” Kujelaskan sedikit dengan membalas tatapannya itu
"Atau dirimu punya pilihan buku yang bisa direkomendasikan untukku?”
lanjutku.
“Ga ada.” Jawaban datarnya memancingku untuk memaksanya.
“Serius ga ada? Buku segini banyaknya ga ada yang bisa direkomendasikan
untukku?” kali ini ku memaksanya.
“Ga ada, emang ga ada yang bisa kurekomendasikan untukmu. Genremu beda
denganku, susah kalau dipaksakan, ga akan masuk ke nalarmu itu.”
“Ayolah, pilihkan yang ringan untukku, biar ku bisa memulainya” setengah merengek menggodanya.
“Ga ada! Sudah kubilang genremu itu beda denganku, yang satu kuantitas
dan yang satu kualitas, itu sudah hal yang berbeda, tak usah memaksa. Hal
seperti ini tak bisa dipaksa” putusnya setengah menahan suara.
Dan seketika kita terdiam, mengambil nafas panjang, dan saling memandang, dan menahan
senyum, sadar jika perdebatan kita ini jadi perhatian sekitar. Tapi cuek saja seperti biasa, toh berisiknya
kita tak mengganggu pengunjung yang lain. Tanpa berkata, jaketku ditariknya, memaksaku
mengikuti langkahnya keluar dari toko.
“Mau makan? tanyaku, berhenti di bawah lampu merah.
“Makan apa? jawabnya dengan sibuk menoleh kanan kiri melihat kendaraan.
“Aku pengen soto yang di dekat kampus, makan itu aja ya.”
“Heem.” Singkat jawabnya, mungkin karena jalanan sudah sepi dan kita bisa
menyeberang. Sikapnya saat menyeberang selalu berpindah menyesuaikan arah
datangnya kendaraan, menjagaku tanpa harus menggandeng tangan.
“Sialnya pas gini, kalo ketabrak, kamu duluan yang mati…hahaha” gurauku.
“Tak apa, biar begitu saja, toh aku lebih suka meninggalkan daripada
ditinggalkan.” jawabnya dingin tanpa menoleh kepadaku.
Tangan kiriku ini tak bisa menahan diri, gatal sekali rasanya ingin mendarat di punggungnya, memukulnya berkali-kali karena jawabannya itu.
Tangan kiriku ini tak bisa menahan diri, gatal sekali rasanya ingin mendarat di punggungnya, memukulnya berkali-kali karena jawabannya itu.
Komentar
Posting Komentar